Thursday, March 11, 2021

Macam-Macam Istighroq

Al Istighroq - Makna Istighroq ngerem-tenggelam, yang dimaksud disini tenggelam di dalam Lautan Tauhid. Tenggelam di dalam Lautan Ke-Esaan Tuhan.

Di dalam Wahidiyah kita mengenal tiga macam Istighroq ; Istighroq Wahidiyah, Istighroq Bi Haqiiqotil Muhammadiyah dan Istighroq Ahadiyyah.

ISTIGHROQ WAHIDIYAH

Istighroq adalah mengeterapkan "Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah" seperti sudah kita bahas pada tulisan sebelumnya mengenai BILLAH. Harus diterapkan di dalam rasa hati pada segala keadaan, segala tingkah segala gerak-gerik lahir batin !. Mutlak dalam segala hal tanpa ada kecualian!. 



Sholawat kedua di dalam Lembaran Wahidiyah "ALLAHUMMA KAMAA ANTA AHLUL .. dan seterusnya" antara lain berisi doa Istighroq Wahidiyah ini. Yaitu pada kalimah "AN TUGHRIQONAA FII LUJJATI BAHRIL WAHDAH, HATTA LAA NARO ... dan seterusnya.

ISTIGHROQ BIHAQIIQOTI MUHAMMADIYYAH

Istighroq Bihaqiiqoti Muhammadiyyah adalah Sadar dan merasakan asal kejadian segala makhluq. Yaitu "Nuuru Muhammadin" SAW. Juga sudah kita bahas di muka pada bab "AT T A'ALLUQ BIJANAABIHI SAW". Ini juga harus dirasa menyeluruh, mutlak seperti BILLAH ! . Dalam segala makhluq, tanpa pengecualian.

ISTIGHROQ AHADIYYAH

Istighroq Ahadiyyah yaitu seperti yang kita praktekkan pada setiap penga-malan Sholawat Wahidiyah di bagian akhir sebelum membaca doanya Fafirruu IlAllah. Jadi, tenggelam didalam "Ahadiyyati Dzaatillah". Tenggelam di dalam Ke-Esaan Tuhan".

Adapun cara prakteknya, diam lahir batin tidak membaca atau memiridkan apa-apa. Segala konsentrasi fikiran, perhatian, perasaan, penglihatan, pendengaran dan sebagai-nya diarahkan tertuju hanya kepada Allah. Tidak ada acara kepada selain Allah ! Hanya Allah !.

Titik ! Bukan kepada lafal Allah !. Tetapi Allah Tuhan !.

Ada yang menggunakan istilah : "LAA MAUJUUDA ILLALLAH" tiada yang wujud selain Allah. Artinya, karena kuat-nya konsentrasi hanya kepada SATU yakni ALLAH, maka yang lain-lain atau makhluq,. tidak kelihatan. 

Tidak kelihatan oleh pandangan mata hati. Bukan pandangan mata lahir, Yang kelihatan hanya ALLAH. Dirinya sendiripun tidak kelihatan. Sehingga mudahnya dikatakan, selain ALLAH tidak wujud, yang wujud hanya ALLAH. Hal tersebut adalah benar, sesuai dengan firman Allah.

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Artinya kurang lebih : "Dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan."  (28 - Al Qoshosh : 88).

Itulah dasar hukum yang dialami dan harus diusahakan ketika melaksanakan ISTIGHROQ AHADIYYAH.

Dalam istilah bahasa Jawa ada yang menggambarkan sebagai "kami tenggengen kepada Allah". Ingat, gambaran pasti tidak persis seperti apa yang digambarkan. Foto tidak persis seperti yang punya foto. Dalam bahasa Indonesia "kami tenggengen" arti yang agak dekat adalah "terpesona yang sangat mendalam". 

Bahasa Jakarta disebutnya "Bengong". Jadi bengong kepada Allah. Orang yang lagi terpesona kepada sesuatu dengan terpesona yang sangat mendalam, pada saat seperi itu ia tidak melihat apa-apa selain sesuatu yang ia terpesonai itu. 

Dirinya sendiripun sudah  tidak  terlintas  dalam  jangkauan  penglihatan batin atau perasaannya. Baginya pada saat bengong seperti "LAA MAUJUUDA ILLA" sesuatu yang ia bengongi itu. Dapat dime-ngerti bahwa keadaan seperti itu hanya dialami dalam bebe-rapa saat, mungkin dalam beberapa detik, tetapi juga tidak mustahil bisa terjadi dalam tempo lebih lama. Begitulah gambaran kira-kira dari ISTIGHROQ AHADIYYAH. Jadi hanya dialami oleh orang yang bersangkutan. Orang lain selain dia tidak merasakannya.

Ada lagi yang memakai istilah "manunggaling kawulo Ian Gusti" = menyatunya hamba dengan Tuhan. Dalam ilmiah tasawwuf ada yang memakai istilah "itthad" "Ittihad bil-hulu" (kemanunggalan dalam bentuk penjelmaan Tuhan ke dalam diri manusia) dan "ittihad bi wahdatil wujud" (kema¬nunggalan manusia dalam diri Tuhan). 

Akan tetapi kami berpendapat istilah-istilah tersebut sangat tidak tepat, terlalu jauh dari kenyataan yang haqiqi. Sebab di dalam istilah "manunggal" atau istilah "ittihad" masih ada dua unsur ; yaitu kawulo dan Gusti atau manusia/hamba dan Tuhan. Pada hal hakikatnya hanya SATU !. ALLAH !. TUHAN!. Titik.

Pengertian yang lebih tepat dan benar adalah harus diterapkan, dipraktekkan dirasakan !. Baru mengerti apa dan bagaimana itu Istighroq Ahadiyyah. Seperti halnya kita tidak dapat mengutarakan manisnya gula yang persis seperti rasanya. Jika di dalam mulut kita ada gula, itulah manisnya gula. 

Begitu juga Istighroq Ahadiyyah, tidak dapat menguraikan dengan susunan kata, tetapi dapat dime-ngerti dengan dzauqiyyah, dengan rasa. Maka perlu dicoba dipraktekkan. Mari kita praktekkan !. Sebelumnya mari membaca Surat Al Fatihah satu kali !.

AL FAATIHAH  ! ISTIGHROQ i.

Adapun lamanya Istighroq Ahadiyyah ini tidak terten-tu. Ada yang dapat melakukan hanya beberapa detik, ada yang satu menit, dua menit, lima, sepuluh menit dan seterusnya. Bahkan ada yang berjam-jam .

Insya Allah jika terus mengadakan latihan, insya Allah lama-kelamaan  dikaruniai   kemajuan  dan peningkatan Maka beliau Al Mukarrom Romo K. Haji Abdoel Madjid Maroel Muallif Sholawat Wahidiyah sering menganjurkan supaya banyak melakukan latihan Istoghroq Ahadiyyah seperti itu di mana saja ada kesempatan !. 

Jadi tidak hanya ketika Mujahadah Wahidiyah saja. Bakda sholat maktuubah, waktu malam hari dalam situasi yang tenang, waktu sidem kayon,. waktu-waktu istirahat di sawah, di ladang, di atas kendaraan dan sebagainya. Kesan-gunanya besar sekaii bagi: bertambahnya kebagusan di dalam hati. Dan selain itu banyak yang dikaruniai pengalaman-pengalaman sirri, pengalaman-pengamalan batin di dalam Istighroq Ahadiyyah ini.


Istighroq, baik istighroq Wahidiyah, istighroq Bi Haqiiqotil Muhammadiyyah mauupun istighroq Ahadiyyah termasuk ibadah batin yang besar sekaii nilainya. Di dalam kitab Taqiriibul Ushull Fil Auliya halaman 108 disebutkan :

جَلْسَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ حَجَّةٍ (تَقْرِيْبُ اْلاُصُوْل: 108)

Artinya : "Duduk   sesaat   (yakni   dalam   istighroq)   lebih   baik dari pada seribu kali haji."

Ini tidak berarti mengurangi nilai ibadah Haji lalu kita hanya istighroq saja tidak menjalankan haji, tidak melakukan sholat dan sebagainya, sama sekaii tidak begitu ! . Segala bidang harus kita isi sepenuh mungkin ! . Ibadah haji termasuk rukun Islam kelima wajib dijalankan oleh siapa saja yang ada kemampuan!.

Tidak boleh diganti dengan jenis ibadah lainnya !. Lebih-lebih ibadah lahir diganti dengan ibadah batin, sama sekaii tidak dibenarkan. Ibadah lahir harus dijalankan menurut semestinya, disam-ping ibadah batin tidak boleh ditinggalkan !.




Thursday, February 18, 2021

AJARAN WAHIDIYAH

Yang dimaksud ajaran wahidiyah adalah bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah didalam melaksanakan tuntunan Rasulullah SAW . Meliputi bidang syariat dan bidang hakikat, mencakup peningkatan iman, pelaksanaan Islam dan perwujudan Ihsan serta pembentukan moral atau ahlak. Peningkatan iman menuju kesadaran atau makrifat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

 

Perwujudan Ihsan sebagai manifestasi daripada iman dan Islam yang kamil ( sempurna )

 

Pembentukan moral atau ahlak untuk mewujudkan ahlakul karimah. Bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah didalam memanfaatkan potensi lahiriyah yang ditunjang oleh pendaya gunaan potensi batiniyah yang seimbang dan serasi .

Jadi bimbingan praktis tsb meliputi segala bentuk kegiatan hidup dalam hubungan manusia terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW ( habbluminallah ) dan hubungan manusia didalam kehidupan masyarakat sebagai insan sosial ( hablumminannas ). Hubungan manusia terhadap keluarga dan rumah tangga , terhadap bangsa , negara dan agama, terhadap sesama umat manusia segala bangsa, serta hubungan manusia terhadap segala mahluk lingkungan hidup pada umumnya

Secara ringkas ajaran wahidiyah tsb dirumuskan sbb :

LILLAH BILLAH

LIRROSUL BIRROSUL

LILGHOUDZ BIL GHOUDZ

YUKTI KULLADZI HAQQIN HAQQAH

TAKDIMUL AHAM FAL AHAM TSUMMAL  ANFA'FAL ANFA'

 

sebelum kita membahas satu persatu pengertian dan bagaimana penerapan ajaran wahidiyah tsb marilah kita renungkan dan fikirkan terlebih dahulu apakah fungsi manusia dihidupkan oleh Allah SWT didunia ini . Kita perhatikan firman Allah SWT

" Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat ,sesungguhnya AKU hendak menjadikan khalifah dimuka bumi " ( QS Albaqarah 30 )

Yang dimaksud khalifah adalah nabi Adam AS yang menurunkan seluruh umat manusia. Jadi setiap manusia sebagai anak keturunan nabi Adam AS dengan sendirinya menjadi ahli waris khalifah Allah SWT dibumi. Dan sebagai ahli waris , secara alami berarti setiap manusia mempunyai tugas kewajiban dan tanggung jawab menjalankan ke khalifahan .

"Khalifah Allah " atau " Wakil Tuhan " dibumi diberi tugas mengatur kehidupan dunia ini menjadi kehidupan yang baik dan benar yang diridhoi Allah SWT

Tuhan maha pencipta yang telah melimpahkan mandat " KHALIFAH " kepada nabi Adam AS tsb , untuk membimbing umat manusia melaksanakan mandat " KHALIFAH " itu maka Allah SWT telah memilih diantara hamba-hambaNya dijadikan nabi pemimpin umat dan diantara nabi-nabi ada yang diterapkan sebagai rasul utusan Allah dengan dibekali kitab suci sebagai tuntunan hidup manusia

Nabi dan utusan yang terakhir adalah junjungan kita nabi Muhammad SAW dengan kitab suci Alquran sebagai pedoman dan tuntunan hidup manusia sampai akhir zaman hari qiamat

Didalam menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah SWT , manusia tidak bebas begitu saja tanpa arah , melainkan harus mengikuti haluan garis besar pokok yang harus dituju oleh manusia adalah seperti yang telah ditetapkan didalam Alquran surat nomer 51 Addariyat ayat 56 .

"  Dan tiada Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar supaya mereka beribadah kepadaKu "(Qs.Adz-dzariyat 56)

Jadi segala perbuatan dan tingkah laku  manusia dalam segala keadaan, situasi dan kondisi yang bagaimanapun hidup didalamnya ini harus diarahkanuntuk mengabdikan diri beribdah kepada Alloh SWT, harus dijadikan sebagai pelaksana dari pada "LIYA'BUDUNI" jadi ibadah itu tidak hanya terbatas menjalankan syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji yang menjadi rukun islam itu saja, juga tidak hanya terbatas pada menjalankan ibadah-ibadah sunnah seperti membaca AL-Qur'an, membaca dzikir, membaca shalawat dsb, akan tetapi disamping itu semua, segala gerak gerik manusia, segala tingkah laku dan perbuatannya sepanjang tidak melanggar larangan Alloh harus dijadikan sebagai pelaksanaan ibadah kepada Alloh, jika hidup manusia ini tidak selalu diarahkan untuk pengabdian diri ibadah kepada Alloh ini berarti manusia menyimpang dari haluan hidup yang telah digariskan Allah SWT, dalam ayat tersebut diatas suatu penyelewengan suatu penyalahgunaan mandat, suatu dosa besar yang harus ditobati.

Sahabat ibnu Abbas rodliyuhu'anhu seorang mufassir Al-qur'an yang terkenal pada jaman kanjeng nabi SAW, menafsirkan kata "liya-buduni" dalam ayat tersebut yakni " liya'-rifuuni" artinya, agar supaya mereka jin dan manusia ma'rifat mengenal atau sadar kepada-KU (allah) jadi segal hidup dan kehidupan manusia ( dan jin) menurut tafsir ini harus sepenuhnya diarahkan atau sebagai sarana untuk ma'rifat atau mengenal Allah SWT, tuhan yang maha pencipta.

Setelah darp pada syarat yang prinsip didalam menjalankan ibadah ialah harus disertai adanya niat didalam pelaksanaan perburbutan ibdah tadi, disertai niat ibaadah, jika tidaj disertai niat ibadah, apapun  macam perbuatan, perbuatan taat sekalipun, amal perbuatan tersebut tidak dicatat sebagai ibadah, dan jika tidak di catat  sebagai ibadah, berupa shalat sekalipun, adalah sebagai maksiat, merupakan dosa, sabda Rasulullah SAW menegasakan hal niat ini sebagai berikut:

 "Sesungguhnya segala amal perbuatan itu ditentukan (tergantung/dinilai) menurut niatnya; dan sesungguhnya bagi seseorang itu tergantung apa yang ia niatkan " ( HR Bukhori & Muslim )

Niat itu letaknya di dalam hati. Kelihatannya seperti perkara sepele akan tetapi menentukan sekali . Jika tidak mendapat perhatian, bisa menghancurkan bangunan ibadah seluruhnya.

Bertitik tolak dari firman Allah SWT dalam Surat Adzariyat ayat 56 dan hadis shoheh tsb diatas, beliau KH Abdoel Madjid Ma'roef muallif sholawat wahidiyah memberikan bimbingan praktis didalam pelaksanaan niat ibadah sebagai realisasi dari LIYA'BUDUNI tsb, yaitu dengan melatih dan membiasakan hati mengetrapkan LILLAH

LILLAH

Artinya segala amal perbuatan apa saja, baik lahir maupun batin yang wajib, yang sunnah , dan yang mubah, lebih-lebih yang berhubungan langsung kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW seperti shalat, puasa , haji, membaca Qur'an, membaca shalawat dsb, didalam kehidupan sehari-hari seperti makan, minum, tidur, istirahat, mandi, bekerja dsb maupun yang berhubungan di dalam masyarakat  , selama bukan perbuatan yang tidak diridhoi Allah SWT, selama  bukan perbuatan yang melanggar syariat dan undang-undang,  melaksanakannya supaya disertai dengan ihlas LILLAHI TA'ALA tanpa pamrih suatu apapun, baik pamrih duniawi maupun pamrih ukhrowi.

Dengan menyertakan niat ibadah LILLAH terutama dalam hati didalam segala perbuatan yang tidak terlarang seperti tsb diatas, maka perbuatan apa saja yang kita lakukan dapat mempunyai nilai ibadah, dicatat dan dinilai sebagai ibadah. Dengan demikian maka telah sesuai dengan kehendak Allah SWT yang di gariskan dalam ayat 56 surat Adzariyat tsb.

Adapun segala perbuatan yang melanggar syariat dan undang-undang, perbuatan yang tidak diridhoi Allah SWT, perbuatan yang merugikan baik diri sendiri lebih – lebih yang merugikan orang lain , sama sekali TIDAK BOLEH disertai dengan niat ibadah LILLAH. Artinya perbuatan-perbuatan tsb harus sekuat mungkin dijauhi dan ditinggalkan betapapun kecil dan remehnya. Dan didalam menjauhi atau meninggalkan itulah yang harus disertai dengan niat ibadah LILLAH, jangan sampai didalam kita menjauhi dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang melanggar syariat tsb didorong oleh kemaun nafsu, harus tetap LILLAH , ibadah kepada Allah SWT, menjalankan perintah Allah SWT! Titik, tidak ingin begini begitu. Demikian seterusnya didalam kita menjalankan amar makruf nahi mungkar, harus disertai dengan niat ibadah kepada Allah SWT dengan ihlas LILLAH. Jangan karena terdorong oleh nafsu supaya begini dan begitu, yang hanya akan merusak dan menghancurkan nilai bangunan amal yang kita kerjakan.

Masalah pamrih atau keinginan kepada hal yang menggembirakan, yang menyenangkan,ingin kepada kebaikan-kebaikan seperti ingin pahala, surga dsb, atau takut dari perkara yang menakutkan seperti kesusahan, penderitaan, siksa, neraka dsb itu diperbolehkan, bahkan sewajarnya harus begitu, sebab manusia tidak lepas dari sifat basariah yang mempunyai keinginan-keingingan dan harapan-harapan serta kemauan-kemauran yang semua bersumber dari nafsu, dan nafsu itupun anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia sehingga menjadi mahluk yang lebih lengkap dan paling sempurna diantara mahlukNya lainnya. Maka nafsu itulah yang harus diarahkan ke arah yang telah digariskan Tuhan, yaitu LIYA'BUDUNI tsb diatas.  Diarahkan untuk ibadah kepada Allah SWT , jika tidak diarahkan pasti akan terjadi ketimbunan hawa nafsu yang serakah dan mengakibatkan penyelewengan dan penyalahgunaan, akhirnya menghancurkan manusia itu sendiri bahkan bisa menghancurkan umat dan masyarakat.

Maka didalam berkeinginan atau pamrih seperti diatas harus disertai niat ibadah kepada Allah dengan ihlas LILLAH , jadi jelasnya kita sembayang , berpuasa, berzakat, berhaji , membaca Alquran, berdzikir, bersholawat dsb supaya disertai niat ibadah yang sungguh-sungguh ihlas LILLAH. Jangan sampai kita melakukan semua tadi karena ingin surga, ingin pahala , takut neraka , ingin terhormat, ingin terpuji, ingin kaya, dsb . Begitu juga didalam kita bekerja, belajar, berjuang untuk bangsa,agama dan negara dan didalam kita mengurus dan mengatur rumah tangga, kita kesawah, ke pasar , ke toko, dan ketika makan , minum, tidur , istirahat, mandi dsb, supaya dengan ibadah kepada Allah dengan ihlas semata-maata LILLAH tanpa pamrih , begitu juga kita berkeinginan berkemauan, berangan-angan, berpikir dsb harus disertai niat ibadah kepada Allah LILLAH, jadi benar-benar melaksanakan pernyataan yang kita baca pada setiap sholat yaitu,

"Sesungguhnya sholatku ,ibadahku, hidup dan matiku adalah untuk Allah Rabbul Alamin "

Dan mengetrapkan didalam hati apa yang sering kita baca didalam surat Al Fatihah
"Hanya kepadaMu Ya Allah aku mengabdikan diri "

Dengan demikian boleh dikatakan hati kita senantiasa bertahlil

"Tiada Tuhan selain Allah "

   

Ilmiah dan pengertian mudah dipelajari, mudah dihafal, akan tetapi disamping ilmiah ,disamping pengertian, perlu diusahakan penerapan dan pelaksanaan ilmiah yang sudah kita miliki. Orang mempunyai ilmu akan tetapi ilmunya tidak diterapkan ,tidak diamalkan, dia sangat terkecam sekali, dan akan mengalami bahaya yang sangat berat.

Didalam kitab Azubad dikatakan

" Orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya besok akan disiksa lebih dahulu daripada penyiksaan para penyembah berhala"

Itu suatu kecaman yang berat, jadi jelasnya amal perbuatan apa saja berupa sholat sekalipun jika tidak disertai niat ibadah LILLAH otomatis disalah gunakan oleh hawa nafsu atau LINAFSI, menuruti keinginan nafsu dan nafsu adalah menjadi sarang iblis dan setan dineraka kelak tempatnya

Didalam wahidiyah , alhamdulillah, dengan memperbanyak mujahadah wahidiyah,disamping terus menerus melatih hati dengan niat LILLAH seperti diatas. Alhamdulillah kita dikaruniai banyak kemajuan dan peningkatan dalam hal beribadah kepada Allah SWT dengan niat ihlas LILLAH tsb.

Sekali lagi amal perbuatan apa saja, atau ibadah apa saja sekalipun berupa sholat, zakat, puasa, haji, membaca alquran, membaca zikir, membaca tahlil, membaca sholawat, menolong orang lain, memberikan sedekah, dan amal-amal kebajikan lainnya, jika tidak disertai niat ibadah LILLAH ihlas tanpa pamrih , karena Allah , tidak dicatat sebagai ibadah kepada Allah SWT dan jika tidak dicatat sebagai ibadah kepada Allah berarti ibadah kepada selain Allah , menyembah selain Allah , kepada siapa? Kepada nafsunya sendiri, menyembah dirinya sendiri , dengan memperalat sholat, zakat dst tadi. Sholatnya , zakatnya , hajinya, membaca quran dan membaca sholawat dsb dikerjakan hanya sebagai kedok untuk menuruti keinginan nafsunya, ingin begini ,ingin begitu, pamrih begini,pamrih begitu dsb

Suatu pendurhakaan terhadap Allah SWT yang sangat keterlaluan, harus cepat-cepat bertobat dan mengadakan perbaikan atau membiarkan dirinya dibakar oleh api neraka akibat amal-amal yang tidak ihlas LILLAH itu .

Sekali lagi mari kita perhatikan dan kita terapkan firman Allah
"Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya menyembah (beribadah/mengabdikan diri ) kepada Allah dengan ihlas karena Allah " Lillah dalam menjalankan agama dengan lurus dan supaya mereka menjalankan sholat dan menunaikan zakat dan demikian itulah agama yang tegak " ( QS Albayyinah 98)

Di dalam Alquran dan terjemahannya DEPAG RI diterangkan bahwa yang dimaksud menjalankan agama dengan lurus artinya terbebas dari syirik dan dari kesesatan untuk menyelamatkan dari bahaya syirik dan kesesatan, ajaran wahidiyah memberikan bimbingan yaitu penerapan BILLAH

 

BILLAH

Billah artinya didalam segala perbuatan dan gerak gerik lahir maupun batin dimanapun dan kapanpun supaya hati senantiasa merasa bahwa yang menciptakan dan menitahkan itu semua adalah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pencipta. Jangan sekali-kali mengaku atau merasa mempunyai kekuatan dan kemampuan sendiri, jadi mudahnya menerapkan didalam hati makna dari " TIADA DAYA DAN KEKUATAN MELAINKAN ATAS TITAH ALLAH "( BILLAH)

Menerapkan firman Allah
" Dan Allahlah yang menciptakan kamu sekalian dan apa-apa yang kamu sekalian perbuat " ( QS Asshofat 96)

" Dan kamu sekalian tidak dapat menghendaki ( tidak dapat berkehendak ) melainkan apabila dikehendaki Allah , Tuhan semesta alam" ( QS Atakwir 29)

Jadi jelasnya didalam kita melihat, mendengar,merasa, menemukan, bergerak,berdiam, berangan-angan, berpikir dsb supaya hati selalu sadar dan merasa bahwa yang menggerakkan yang menitahkan itu semua adalah Allah SWT . Merasa BILLAH , semuanya BILLAH, tidak ada sesuatu yang tidak BILLAH, ini harus kita rasa didalam hati, tidak hanya cukup pengertian dan keyakinan dalam otak. Bukan sekedar pengertian ilmiah saja, kita membaca buku ini , kita memahami buku ini BILLAH, buku yang anda baca ini pun BILLAH , kitapun BILLAH, mari kita terus begitu, merasa BILLAH.

Sumber dari segala kehancuran kebobrokan moral penyelewengan dan penyalahgunaan pertengkaran permusuhan kekacauan dsb adalh berada dalam nafsu. Yg memiliki ciri khas yaitu pamrih maka sifat pamrihnya nafsunya ini harus diarahkan dengansistem penerapan niat LILLAH dan sadar BILLAH spt diatas. Jika sifat pamrih itu dibiarkan tidak diarahkan dg niat BILLAH maka akan menjadi –jadi dan bercokol dengan lekat didalam hati makin lama makin tebal, makin lama makin besar dan makin kokoh dan kemudian muncul satu kerajaan didalm hati yaitu kerajaan ananiyah atau rasa keaku-akuan atau egosentris. Aku yang usaha, aku yg berkuasa, aku yg mengerjakan, aku yg menentukan, kalau tidak karna aku dan seterusnya.

Orang yg hatinya sdh dijajah imperalis nafsu spt itu segala lngkah dan amal perbuatannya disetir oleh nafsu dan diarahkan apa yg menjadi kepuasan anfsunya. Segala amalnya, tindakaaanya, perbuatannya, semata –mata hanya untuk menuruti kemauan nafsunya tanpa memmandang benar apa salah tidak memandang hak atau batil diterjangnya, tidak peduli orang lain menderita yg penting puas itulah sifat nafsu. Serakah ,dengki, dan membabi buta. Dan hanya enak dan kepenak. 




Tuesday, February 16, 2021

PETUNJUK MENGIKUTI MUJAHADAH KUBRO


Mujahadah kubro sebagai puncak acara yang dituntunkan oleh Mualif Shalawat Wahidiyah Mbah KH. Abdul Madjid Ma'roef QS wa RA, perlu terus dilestarikan dan ditingkatkan balk kualitas maupun kuantitasnya.

Mengingat mujahadah kubro merupakan acara terbesar dalam Wahidiyah yang melibatkan seluruh pengamal maupun simpatisan Wahidiyah, untuk menjamin kelancaran acara tersebut perlu ditanamkan sikap disiplin, pemanfaatan waktu sebaik-.baiknya, sehingga tercipta keamanan dan kenyamanan bersama.

Melalui rubrik ini kami sajikan petunjuk praktis mengikuti mujahadah kubro. Dengan harapan, semoga keikutsertaan kita dalam acara akbar ini lebih berkualitas. Amin.

*MENDAFTARKAN DIRI SEBAGAI PESERTA*
1. Semua peserta harus masuk arena melalui penerima tamu.
2. Peserta dilarang memasuki arena mujahadah kubro melalui jalan atau gang yang tidak ada penerima tamunya.
3. Peserta wajib mendaftar ke panitia, bagi peserta yang membawa rombongan harus mendaftarkan jamaahnya dengan menyampaikan alamat asal, kendaraan yang dipakai dan jumlah jamaah rombongan, guna mendapatkan tanda peserta.
4. Tanda peserta akan dipasangkan oleh panitia, atau diserahkan kepada ketua rombongan untuk membaginya.
5. Tanda peserta dipasang di saku sebelah kiri dada.
6. Tanda peserta tidak boleh dilepas dari baju selama berada dan jadi peserta mujahadah kubro.
7. Tanda peserta tidak diperkenankan dipasang selain di saku/dada sebelah kiri, misalnya: di kopyah.
8. Peserta dilarang membuat/mencetak kartu peserta sendiri.
9. Apabila kartu peserta hilang, supaya segera melapor panitia.
10. Bagi peserta yang hadir sebelum acara dimulai dapat langsung menyesuaikan diri di lapangan atau mencari tempat yang kosong.
11. Peserta yang hadir di Kedunglo dan acara sudah mulai dan atau arena sudah penuh, wajib menempati tempat yang telah diatur oleh panitia, dimana saja sesuai urutan peserta hadir tanpa memaksa harus ke depan atau mencari-cari alasan untuk dapat masuk ke arena sehingga akan memperkeruh suasana yang telah diatur rapi oleh panitia.

"MENEMPATI ARENA"

Setelah para peserta mendaftarkan diri di stand penerima tamu, maka sebaiknya para peserta segara menuju ke tempat acara, guna mengambil tempat untuk mengikuti rangkaian acara mujahadah kubro dengan khidmat. Dalam hal pengambilan tempat ini hendaknya para peserta memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Peserta harus mengambil tempat acara berkelompok untuk memudahkan adanya kelancaran karena dalam pelaksanaan mujahadah kubro tidak melayani panggilan-panggilan keluarga.
2. Peserta dilarang menempati masjid, serambi masjid, gedung sekolah, pondok dan maqom. Peserta tidak diperkenankan bertempat dalam masjid karena masjid dipergunakan untuk shalat dan mujahadah.
3. Peserta putri dilarang masuk ke tempat putra dan atau sebaliknya.

*ACARA-ACARA DALAM MUJAHADAH KUBRO*

Secara garis besar, acara mujahadah kubro dibagi daiam 3 bagian: yaitu acara seremonial, acara ritual dan pisowanan/ muwadda'ah.
a. Acara Seremonial
Acara seremonial adalah rangkain acara yang dilaksanakan secara resepsi selama pelaksanaan mujahadah kubro, yang terdiri dari 5 gelombang sebagaimana lazimnya. Adapun adab saat mengikuti acara seremonial yaitu:
1. Peserta menempati tempat yang disediakan panitia.
2. Duduk dengan tenang mengikuti acara dengan khidmat.
3. Pada waktu acara akan dimulai dan selama berlangsungnya acara, peserta dilarang keluar arena, berjalan-jalan/mondar-mandir tanpa ada kepentingan.
4. Selama acara berlangsung tidak diperkenankan berbicara kecuali bila ada sesuatu yang sangat penting karena akan mengganggu konsentrasi peserta yang lain.
5. Menjaga adab lahir dan batin.
6. Selama acara berlangsung, diusahakan hati senantiasa nida Yaa Sayyidii Yaa Rasuulallah (berhubungan kepada beliau Kasulullah SAW) dan senantiasa istighotsah (berhubungan dengan
beliau Ghautsu Hadzaz Zaman RA).
7. Selama acara berlangsung, HP (handphone) supaya dimatikan.
8. Selama acara berlangsung dilarang tidur.




AT - TA'ALLUQ BI JANAABIHI SAW. (HUBUNGAN JIWA DENGAN ROSUULULLOH SAW).

Di muka sudah kita bahas bahwa faedah membaca sholawat yang paling besar manfaatnya adalah "Inthibaa`u shuurotihi SAW 'ala golbi musholli" = tercetaknya gambar pribadi (shuuroh) Rosuululloh SAW di dalam hati si pembaca sholawat. 

Dengan kata lain selalu terbayang kepada Rosululloh SAW. Dengan demikian terjalin hubungan jiwa yang sangat erat antara si pembaca sholawat dengan Rosululloh SAW. Kita yakin bahwa eratnya hubungan jiwa dengan Rosululloh SAW. merupakan pusaka dan fondasinya iman dan taqwa, dan menjadi patrinya mahabbah kepada Alloh wa Rosuulihi SAW. Dan kita yakin bahwa iman, taqwa, dan mahabbah merupakan bangunan kesefamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan Iahir batin rohani dan jasmani di dunia dan di akhirat.

Maka oleh karena itu hubungan kita sebagai umat terhadap Rosululloh SAW sebagai pemimpin kita, sebagai pembimbing kita, sebagai pembela kita dari kesesatan dan kehancuran perlu dipupuk, ditingkatkan dan disempurnakan yang sebaik-baiknya !. Hubungan yang masih bersifat formalitas ala syari'ah harus ditingkatkan menjadi semacam hubungan molekuler yang lebih kokoh lahir dan batin.

Bukankah Rosululloh SAW sendiri sesuai dengan kepribadian Beliau yang "ROHMATAN LIL `AALAMIIN" dan "BIL MUKMINIINA ROUUFUR ROHIM" telah meletakkan dan meratakan "Lem perekat" hubungan terhadap, sekalian para umat. 

Firman Alloh SWT didalam AI Qur an telah memberitahukan hal itu kepada kita antara lain:

"Sungguh telah datang kepadamu sekalian seorang Rosul dari kalangan kamu sekalian yang sangat berat memprihatinkan penderitaan kamu sekalian, yang menginghnkan keimnan dan keselamatan bagi kamu sekalian dan amat belas kasih sayang kepada orang-orang mukmin".

Begitu mendalam keakraban hubungan batin Rosululloh SAW. terhadap para umat sampai Beliau SAW memanggilnya sebagai "Ikhwan" sebagai "kawan", sebagai "saudara" dengan sabda-NYA: "Betapa rindu-Ku kepada saudara-saudara-Ku yaitu mereka yang datang sesudah-Ku" (Insan Kamil II hal. 88).

Jadi kita para umat, seharusnya hanya tinggal menempelkan dan melekatkan hubungan jiwa dengan Rosululloh SAW yang "Lem Perekatnya" sudah ada dan sudah diratakan oleh Rosululloh SAW. sendiri. Mari kita renungkan hal ini dan kita adakan koreksi diri bagaimana hubungan kita sefama ini terhadap Junjungan kita Kanjeng Nabi Besar Muhammad Rosululloh SAW. Pemimpin kita, Pembimbing kita, dan Pembela kita yang sangat menyayangi kita!.

AL FAATIHAH !

YAA SYAAFI'AL KHOLQIS SHOLAATU WASSALAAM 

YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH ........

Adapun cara-cara mengadakan dan memperbaiki hubungan yang akrab kepada Rosululloh SAW. Atau yang disebut "TA`ALLUQ BI JANAABIHI SAW" ada dua jalan. Yaitu seperti

diterangkan di dalam kitab Sa'aadafud Dairoini fis-Sholaati 'Ala Sayyidil Kaunaini SAW, karangan Syekh Yusuf bin Ismail an

Nabhani : TA'ALLUQ SHUURIY dan TA'ALLUQ MAKNAWIY.

TA'ALLUQ SHUURIY atau hubungan secara formal dapat ditempuh melalui dua jalan

(1)   Menjalankan segala apa yang diperintahkan dan menjauhi atau meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Rosululloh SAW. Jadi menjalankan syari'ah Islam secara komplit lahir dan batin dengan tepat dan sempurna di dalam segala hubungan. Baik didalam hubungan kepada Alloh wa Rosulihi SAW, maupun di dalam hubungan dengan masyarakat, terhadap keluarga, terhadap tetangga, terhadap bangsa dan negaranya, terhadap sesama umat manusia segala bangsa terhadap agamanya bahkan terhadap sesama makhluq pada umumnya.

(2)   Fanak atau lebur di dalam lautan mahabbah atau cinta kepada Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW, antara lain dengan memperbanyak membaca sholawat, memperbanyak dan mengangan-angan penuh rindu atau syauq kepada Rosululloh SAW. Memperbanyak membaca atau mendengarkan uraian-uraian atau hikayah-hikayah yang mengandung pujian dan sanjungan terhadap kebesaran dan kemulyaan Rosululloh SAW. Sehingga tumbuh rasa mahabbah dan rindu yang mendalam. Juga dengan berangan-angan dan berfikir tentang jasa-jasa dan pengorbanan serta perjuangan Rosululloh SAW di dalam membela umat.

TA'ALLUQ MAKNAWIY atau secara hubungan maknawi juga dapat ditempuh melalui dua jalan

(1)      Melatih hati membayangkan atau ISTIHDLOR kepada pribadi Beliau SAW yang mulia dan agung itu dengan sepenuh ta'dhim mahabbah atau kagum. Ini bagi mereka yang sudah pernah bertemu Rosululloh SAW, dalam mimpi atau dalam keadaan jaga (tidak tidur) atau yaqodhotan. Bagi yang belum pernah bisa membayangkan sifat-sifat dan budi pekerti Beliau SAW, yang luhur itu. Bagi yang sudah pernah ziarah ke Makkah dan Madinah dapat membayangkan Kabah, membayangkan maqom Rosululloh SAW, membayangkan masjid atau tempat-tempat lain yang bersejarah yang dipergunakan oleh Beliau SAW di dalam memperjuangkan agama Islam dan di dalam memberikan tuntunan dan bimbingan kepada para sahabat Rodhiyalloohu ta'ala anhum. Semua itu harus kita lakukan dengan beradab ta'dhim dan tawadhu'.

 


MACAM - MACAMNYA SHOLAWAT

Sholawat kepada Kanjeng Nabi SAW, yang beraneka macam dan ragamnya itu dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu "SHOLAWAT MAKTSUUROH" dan "SHOLAWAT GHOIRU MAKTSUUROH".

SHOLAWAT MAKTSUUROH

Sholawat Maktsuuroh ialah sholawat yang redaksinya langsung diajarkan oleh Rosululloh SAW. Salah satu contoh ialah "Sholawat ibrohimiyah" yaitu seperti yang kita baca di dalam tahiyyat sholat. Kalimahnya yanq masyhur yaitu :

Jadi tidak memakai kalimah "Sayyidina". Memang semua sholawat maktsuuroh tidak ada yang memakai kalimah itu. Ini menunjukkan keluhuran budi Rosululloh SAW. yang tidak pernah menonjolkan diri, selalu bertawaddhu' berlemah lembut pada siapapun. Suatu sikap budi Luhur yang seharusnya ditiru oleh para umat.

Adapun kita sering membacanya dengan tambahan kata “SAYYIDINAA”, kata itu tambahan oleh para Shahabat Nabi SAW sebagai cetusan rasa takdhim dan mahabbah. Sudah sewajarnya kita para umat menyebut Kanjeng Nabi SAW. dengan "Sayyidinaa” atau kata lain yang maksudnya sama, misalnya "Kanjeng”, "Gusti", "Bendoro" dan sebagainya. Terhadap pahlawan bangsa kita, sering kita menggunakan sebutan "Pangeran Diponegoro", "Kanjeng Sultan" dan sebagainya.

Lebih-lebih terhadap Rosululloh SAW. bukankah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. adalah "Sayyidul Anbiyaa Wal Mursaliin”, Pemimpinnya para Nabi dan para Utusan Alloh, bahkan "Sayyidul Kholqi Aj-ma'iin'", Sayyid atau Pemimpinnya seluruh makhluq !.

Jadi penggunaan kalimah 'sayyidinaa' terhadap Kanjeng Nabi SAW, baik didalam bacaan sholawat ataupun diluar bacaan sholawat, merupakan cetusan rasa ta'dhim memulyakan dan rasa mahabbah-cinta yang mulus.

Dan sesuai dengan hadits Rosululloh SAW.

"Aku adalah Sayyid (pimpinan)-nya anak cucu Adam dan tidak membanggakan diri   " (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Tirmidzi dan lbnu Majah dari Abu Sa'id al-Khudri).

Ini mengajarkan kepada kita supaya lebih memurnikan tauhid kita kepada Alloh SWT. Pada kesempatan lain Rosululloh SAW. bersabda yang artinya :

Rosuululloh SAW bersabda : "Janganlah kamu memanggil orang munafiq dengan "sayyid". Kalau memang benar ia orang pimpinan. Maka berarti kamu telah mernurkakan Tuhan kamu" (Hadits riwayat Abu Dawud, dengan sanad yang Sohih).

Alloh SWT. melarang tidak boleh mengundang Kanjeng Nabi SAW, hanya dengan menyebut "Yaa Muhammad" atau "Yaa Abal Qoshim" dan panggilan lain yang tidak mengandung nilai ta'dhim. Firman Alloh SWT :

"Janganlah kamu jadikan panggilan Rosul diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)'' (Qs. An-Nuur : 63).

Di dalam ayat lain disebutkan larangan Alloh SWT

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suara kamu melebihi suara Nabi (SAW), dan janganlah kamu berkata kapada-Nya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, salah-salah menjadi hapus amal-amal kamu sekalian dan kamu sekalian tidak menyadari" (49 - Al Hujurot : 2).

Kedua ayat tersebut bertitik berat pada bidang adab terhadap Rosululloh SAW. memanggil nama Kanjeng Nabi SAW. dengan “menjangkar” istilah orang Jawa, artinya memanggil tanpa disertai rasa hormat, dan berbicara keras terhadap Kanjeng Nabi SAW adalah sangat tidak sopan dan merupakan suu-ul adab yang bisa mengakibatkan terhapusnya amal-amal kebaikan.

Kita para umat wajib menghormat dan memulyakan Kanjeng Nabi SAW. Syekh Abul Abbas at-Tijani berkata sebagaimana disebutkan di dalam kitab Sa'aadatud Daaroini halaman 11, bahwa "siyaadah" (sebutan Yaa Sayyidii) adalah termasuk ibadah. Sebab maksud pokok dari pada membaca sholawat adalah menghormat mengagungkan Kanjeng Nabi SAW. Jadi apabila meninggalkan "siyaadah" didalam membaca sholawat, berarti tidak menghormat tidak memulyakan Kanjeng Nabi SAW. ini perlu kita perhatikan !.

 

SHOLAWAT GHOIRU MAKTSUUROH

Sholawat Ghoiru Maktsuuroh adalah sholawat yang disusun oleh selain Kanjeng Nabi SAW. Yaitu oleh para Sahabat, para Tabi'in, para Sholihiin, para Auliya , para Ulama' dan oleh umumnya orang Islam. Maka tidak aneh bahwa umumnya Sholawat Ghoiru Maktsuuroh itu kalimahnya ada yang panjangpanjang, susunan bahasanya disertai kata-kata yang indah-indah, mengekspresikan penghormatan, pujian dan sanjungan yang romantik sebagai cetusan dari getaran jiwa mahabbah dan syauq atau rindu yang mendalam. Bahkan tidak sedikit yang disusun dengan menggunakan kesusastraan yang tinggi, menggunakan kalimat-kalimat yang baliigh dalam bentuk nadhom atau sya'ir, sajak dan puisi. Dan di samping sholawat banyak disertakan do'ado'a munajat kepada Alloh Subhanahu wa Ta ala dan kalimat-kalimat tasyaffu'an memohon syafa'at kepada Rosululloh SAW. Hal tersebut menambah ikrom, ta'dhim dan rasa mahabbah yang makin mendalam.

Ada banyak sekali macam Sholawat Ghoiru Maktsuuroh dengan nama yang bermacam-macam pula. Berpuluh; beratus bahkan beratus ribu. Alloohu A'Iamu !.

Ada yang diberi nama dengan nama Mu'allifnya dan ada yang diberi nama menurut fadhiilah dan faedah yang terkandung didalamnya. Contoh sholawat ghoiru maktsuuroh antara lain sholawat Munjiyaat, sholawat Naariyah, sholawat Badawiyah, sholawat Badar, sholawat Burdah, sholawat Masyisyiyah dan masih banyak Iagi. Sholawat Wahidiyah termasuk sholawat Ghoiru Maktsuuroh, dan nama "Wahidiyah" diambil dari salah satu Asma'ul Husna (Asma Alloh yang baik) yang terdapat didalamnya yaitu "ALLOHUMMA YAA WAAHIDU...".

Mari kita menyatakan syukur kepada Alloh SWT dengan membaca surat al-Fatihah satu kali dihaturkan sebagai hadiah, disamping kepada Rosululloh SAW juga kepada para Mu'allif beberapa Sholawat tersebut diatas.

AL FAATIHAH !...................      

Banyak sholawat ghoiru maktsuuroh yang mengandung ajaran yang penting-penting. Ada yang mengandung ajaran bidang akhlaq dan adab, ada yang mengandung ajaran tauhid, ajaran haqiqot dan ma'rifat, dan ada juga yang mengandung ajaran syari'ah. Sholawat Masyisyiyah yang ditaklif oleh Syekh Abdus Salam bin Masyisy berisi ajaran Tauhid. Sholawat Burdah taklifan Syekh Bushiri mengandung dorongan batin yang menggugah dan menumbuhkan rasa mahabbah dan rindu kepada Junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Dan Sholawat Wahidiyah yang mengandung ajaran yang meliputi bidang haqiqot dan bidang syari'at, mencakup bidang akhlaq dan adab, bidang tauhid, bidang iman, bidang Islam dan bidang ihsan, pokoknya bidang ubudiyah dan bidang kemasyarakatan. Sholawat Wahidiyah mengandung dan memberikan bimbingan praktis didalam merealisasi pelaksanaan "HABLUN MINALLOOHI WA HABLUN MINANNAS", yakni membimbing pelaksanaan dan realisasi kewajiban serta tanggung jawab terhadap Alloh wa Rosuulihi SAW, terhadap keluarga, terhadap bangsa dan negara, terhadap sesama umat manusia, terhadap agama, bahkan terhadap sesama makhluk pada umumnya.

Bimbingan praktis tersebut dituangkan dengan kalimah-kalimah yang baliigh tetapi mudah difahami dan mudah diterapkan dan dilaksanakan seperti dapat kita saksikan di dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah yang disampaikan kepada masyarakat luas dengan cuma-cuma. Titik fokus yang menjadi tujuan dari pada bimbingan praktis tersebut adalah bidang Wushul Ilalloh atau bidang Ma'rifat atau sadar kepada Alloh wa Rosuulihi SAW. Begitu baliigh susunan bahasanya, sehingga untuk mendalaminya perlu dibeberkan dengan bahasa yang praktis dan dengan penjelasanpenjelasan yang luas untuk lebih memudahkan di dalam pengamalan dan penerapannya.

Itulah antara lain tugas Buku Kuliah Wahidiyah ini dan bukubuku Wahidiyah lainnya seperti

1.    Risalah Penjelasan Mengenai Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah ;

2.    Pedoman Pokok-Pokok Ajaran Wahidiyah ;

3.    Tuntunan Mujahadah dan acara-acara Wahidiyah ;

4.    Tuntunan Mujahadah Kanak-Kanak Wahidiyah ;

5.    Tuntunan Pembinaan Wanita Wahidiyah

6.    Mingguan Wahidiyah, dan

7.    Brosur-brosur Wahidiyah yang dikeluarkan oleh Yayasan Perjuangan Wahidiyah Pusat.

Baik sholawat maktsuuroh atau sholawat ghoiru maktsuuroh adalah cukup memenuhi untuk pelaksanaan dari pada firman Alloh SWT dalam surat al-Ahzab ayat 56 :

"Wahai orang-orang yang beriman bacalah sholawat kepada Nabi (SAW) dan sampaikan salam hormat dengan sebaik-baiknya”.

Seperti diuraikan dimuka, bahwa macamnya sholawat ada banyak sekali dan kita tidak mampu menghitungnya. Masingmasing sholawat dikaruniai faedah dan manfa'at sendiri-sendiri yang satu sama lain tidak sama. Hanya Alloh dan Rosul-NYA SAW yang mengetahui.

Ditinjau dari Mu'allifnya, sudah barang tentu sholawat maktsuuroh adalah yang paling utama sebab ditaklif oleh Rosululloh SAW sendiri. Akan tetapi juga tidak sedikit sholawat ghoiru maktsuuroh yang dikaruniai faedah dan manfa'at yang sangat berguna bagi para umat. Manfa'at lahiriyah dan manfa'at batiniyah, baik untuk kepentingan di dunia maupun kepentingan di akhirat. Banyak sholawat ghoiru maktsuuroh yang membuahkan rasa ta'dhim dan mahabbah serta kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi SAW. Jadi pada dasarnya semua sholawat adalah baik, dan dikaruniai manfa'at kebaikan yang tidak sedikit. Antara lain tergantung kepada si pembaca sholawat. Sangatlah tercela dan dikhawatirkan suu-ul adab apabila kita memperbandingkan satu sholawat dengan sholawat yang lain. Suu-ul adab kepada Mu'allif sholawat dan suu-ul adab kepada Rosululloh SAW !.

Al-Mukarrom Mbah K.H. Abdul Majid Ma'roef QS. wa RA Mu'allif Sholawat Wahidiyah di dalam salah satu fatwa amanatnya, menerangkan, bahwa ada beberapa factor yang berpengaruh terhadap fadliillah kebaikan sholawat. Yaitu, disamping fadlol dari Alloh SWT dan syafa'at Rosululloh SAW, fadhiilahnya adalah sesuatu sholawat itu ada hubungannya dengan beberapa hal berikut ini, yang antara lain :

1.  Kondisi Mu'allif sholawat,   terutama kondisi batiniyah (kedekatannya dengan Rosululloh SAW).

2.  Susunan redaksi sholawat.

3.  Situasi dan kondisi masyarakat ketika sholawat itu ditaklif.

4.  Tujuan sholawat ditaklif.

5.  Situasi dan kondisi si pembaca sholawat.

6.  Adab lahir dan batin ketika membaca sholawat.

 

Bagi kita yang paling penting adalah perhatikan adab-adab ketika membaca sholawat. Antara lain yaitu :

1.    Niat ikhlas beribadah kepada Alloh SWT tanpa pamrih.

2.    Ta'dhim dan mahabbah kepada Rosululloh SAW.

3.    Hatinya hudhur kepada Alloh SWT dan istihdhor = merasa

4.    seperti dihadapan Rosululloh SAW ;

5.    Tawaddhu' merendahkan diri, merasa butuh sekali kepada pertolongan Alloh SWT, butuh sekali syafa'at atau bantuan (moril) dari Rosululloh SAW.

Kemudian dari sekian banyak sholawat yang berbeda-beda fadhiilah dan manfa'atnya itu, sudah barang tentu kita, boleh memilih sholawat apa yang akan kita amalkan, sesuai dengan kebutuhan dan hajat kita tanpa mengurangi hormat dan perhatian kita terhadap sholawat yang lainnya.

Sesuai dengan situasi dan tuntutan zaman pada masa akhir ini, dimana berbagai macam pengaruh datang membuat kegoncangan di dalam hati kita, sehingga hidup kita menjadi tidak tenang dan tidak tentram, maka sudah seharusnya kita mengamalkan sholawat yang membuahkan atau yang membekaskan ketenangan batin dan ketentraman jiwa, pokoknya sholawat yang mendatangkan kesejahteraan rohani. Sebab dengan kesejahteraan rohani akan mudah dapat dibangun kesejahteraan jasmani yang kokoh dan stabil.

Kesejahteraan rohani tersebut tidak lain adalah berupa peningkatan iman dan taqwa, peningkatan ingat dan sadar kepada Alloh wa Rosuulihi SAW. Sholawat yang memberi faedah seperti itulah yang seharusnya kita amalkan disamping amalan-amalan atau do'a-do'a lain.

Alhamdulillah, Sholawat Wahidiyah dikaruniai faedah yang cocok dengan tuntutan kebutuhan seperti tersebut diatas. Pengamalan Sholawat Wahidiyah alhamdulillah membuahkan kejernihan hati, ketenangan batin dan ketentraman jiwa dan makin bertambah banyak ingat kepada Alloh wa Rosuulihi SAW, suatu kondisi batiniyah yang menjamin keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup lahir batin di dunia dan akhirat. Dengan kondisi batiniyah seperti itu maka akan lahir akhlaq-akhlaq dan perbuatanIpcrbuatan yang baik, di dalam menjalankan ibadah pengabdian diri kepada Alloh SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, dan di dalam hubungan dalam pergaulan hidup di masyarakat. Maka oleh karena itu pengamalan Sholawat Wahidiyah perlu kita usahakan, perlu kita perhatikan dengan tidak mengesampingkan lebih-lebih meremehkan atau mengurangi perhatian terhadap amalan-amalan selain Sholawat Wahidiyah.

Ditinjau dari segi redaksi atau susunan tata bahasanya, sholawat ghoiru maktsuuroh ada yang berbentuk permohonan kepada Alloh SWT. seperti umpamanya dengan kalimat "ALLOHUMMA       Dan ada juga secara langsung menyampaikan sholawat itu kepada Rosululloh SAW seperti : "AS SHOLATU WASSALAAMU 'ALAIKA WA'ALA AALIKA YAA SAYYIDI YAA ROSULLALLOH".

Di dalam Sholawat Wahidiyah kita jumpai ada bentuk sholawat dengan "Aflohumma sholli          " dan ada yang bentuk menyampaikan langsung kepada Rosululloh SAW., yaitu sholawat yang ketiga : "YAA SYAAFI'AL KHOLQIS – SHOLAATU WASSALAM  '' dan sholawat yang keempat : "YAA SYAAFI'AL KHOLQI HABIIBALLOOHI    

Sholawat yang ketiga dalam redaksi sholawat wahidiyah "Yaa Syaafi'al Kholqis Sholaatu Was Salaam dst', disebut "SHOLAWAT TSALJUL QULUUB" yang berarti "saljunya hati". Nama lengkapnya agak panjang yaitu (Sholawat Saljul Ghuyuh untuk mendinginkan hati yang panas)

Dan alhamduliliah memang nyata sholawat "Yaa Syaafi'ai Kholqis Sholaatu Was Salaam dst     tersebut memberi rangsangan di dalam hati menjadi dingin tidak mudah meluap panas tetapi juga tidak menjadi beku.

Baik sholawat yang menggunakan "Allohumma sholli" maupun yang langsung disampaikan kepada Rosululloh SAW, masing-masing ada khasiyatnya sendiri-sendiri. Beliau Mu'allif Sholawat Wahidiyah menerangkan bahwa sholawat yang tidak memakai lafal "ALLOH diantara fadhilahnya adalah memberi bekas rasa dingin, tenang dan tentram di dalam hati. Sedangkan sholawat yang memakai lafal "ALLOH merangsang rasa panas di dalam hati, artinya hati menjadi bersemangat dan bergairah, bergairah untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik diridhoi Alloh Wa Rosulihi SAW.

Kemudian mana yang perlu kita perbanyak pengamalannya, apakah sholawat yang memakai lafal "ALLOH atau yang tidak memakai lafal "ALLOH , itu tidak menentu, tergantung "Waaridun Ilahiyyun (= getaran hati dari Alloh) yang diberikan ke dalam hati seseorang. Suatu ketika mungkin sholawat yang menggunakan lafal "ALLOHUMMA" atau lafal "ALLOH seperti misalnya "SHOLLALLOOHU 'ALA MUHAMMAD" yang meninggalkan kesan yang baik di dalam hati. Akan tetapi mungkin pada suatu tempo justru sholawat yang redaksinya langsung kepada Rosululloh SAW dan tidak mengandung lafal "ALLOH yang memberikan kesan atau rangsangan yang baik di dalam hati.

Sholawat Wahidiyah terdiri dari rangkaian dua bentuk redaksi sholawat seperti diatas. Ada yang bentuk "ALLOOHUMMA    dan ada yang langsung disampaikan kepada Rosululloh SAW. Tanpa disertai lafal ALLOH. Maka logis apabila faedah yang diberikan Alloh SWT kepada Sholawat Wahidiyah benar-benar cocok dengan apa yang dibutuhkan oleh umat dan masyarakat dewasa ini. Yakni hati yang dingin, tenang dan tentram tetapi bersemangat dan bergairah.

Selain itu didalam Sholawat Wahidiyah, di samping redaksi sholawat sebagai intinya, disertakan pula do'a-do'a permohonan kepada Alloh SWT. Hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Yaitu misalnya pada sholawat kedua "ALLOOHUMMA KAMAA ANTA AHLUH............”. Ditambah lagi dengan permohonan kebaikan bagi pribadi, keluarga, bangsa dan negara, bahkan bagi ummat masyarakat manusia seluruh dunia baik, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Nenek moyang kita. leluhur kita dan saudara-saudara kita yang sudah beraoa di alam kubur tidak ketinggaian menjadi sasaran penting yang dimohonkan di dalam Sholawat Wahidiyah. Kesejahteraan dan barokah bagi bangsa dan negara, bahkan bagi seluruh makhluq ciptaan Alloh SWT termasuk objek yang harus dimohonkan di dalam mujahadah Sholawat Wahidiyah. Ditambah lagi dengan permohonan barokah bagi mujahadah yang sedang kita laksanakan, kemudian diakhiri dengan getaran jiwa yang kuat mengetuk hati jamii'al alamin (umat seluruh dunia) termasuk diri kita sendiri terutama, yaitu ajakan

“FAFIRRUU ILALLOH” = larilah kembali kepada Alloh (Wa Rosuulihi SAW). Arti "barokah" yang dimaksud adaiah bertambahnya kebaikan.

Yang penting lagi, di dalam Wahidiyah kita dibimbing oleh Beliau Mbah Kiyai Mu'allif Sholawat Wahidiyah QS wa RA, antara lain yaitu di dalam setiap kita berdo'a, kita harus husnulyaqin = berbaik keyakinan bahwa permohonan kita dikabulkan oleh Alloh SWT. yaitu menerapkan sabda Hadits :

Artinya :

"Apabila kamu sekalian berdo'a maka yakinlah (do'a-mu) diijabahi oleh Alloh SWT” (Hadits riwayat Tirmidzi dari Abu Huroiroh).

Akan tetapi kita tidak boleh terpancang hanya memandang terkabulnya do'a saja !. Didalam berdo'a kita harus menitikberatkan do'a kita itu sebagai pelaksanaan ibadah kepada Alloh. Kita memang diperintah untuk berdo'a. Titik.

Firman Alloh SWT :

Artinya kurang lebih :

"Dan Tuhanmu Berfirman : "Berdo’alah (Memohonlah) kamu sekalian kepada-Ku, niscaya akan AKU ijabahi bagimu" (40 – Al Mukmin : 60).

Jadi kita berdo'a untuk melaksanakan perintah-NYA yaitu "UD'UUNI". Berdo'a dengan niat ibadah kepada Alloh SWT dengan ikhlas tanpa pamrih "LILLAH", istilah di dalam Wahidiyah. Dan disamping LILLAH harus pula ada niat "LIRROSUL" mengikuti tuntunan Rosul SAW. dan dijiwai sadar kepada Alloh wa Rosuulihi SAW !. Lihat Ajaran Wahidiyah di belakang.