Sholawat kepada Kanjeng Nabi SAW, yang beraneka
macam dan ragamnya itu dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu
"SHOLAWAT MAKTSUUROH" dan "SHOLAWAT GHOIRU MAKTSUUROH".
SHOLAWAT MAKTSUUROH
Sholawat Maktsuuroh ialah sholawat yang
redaksinya langsung diajarkan oleh Rosululloh SAW. Salah satu contoh ialah
"Sholawat ibrohimiyah" yaitu seperti yang kita baca di dalam tahiyyat
sholat. Kalimahnya yanq masyhur yaitu :
Jadi tidak memakai kalimah
"Sayyidina". Memang semua sholawat maktsuuroh tidak ada yang memakai
kalimah itu. Ini menunjukkan keluhuran budi Rosululloh SAW. yang tidak pernah
menonjolkan diri, selalu bertawaddhu' berlemah lembut pada siapapun. Suatu
sikap budi Luhur yang seharusnya ditiru oleh para umat.
Adapun kita sering membacanya dengan tambahan
kata “SAYYIDINAA”, kata itu tambahan oleh para Shahabat Nabi SAW sebagai
cetusan rasa takdhim dan mahabbah. Sudah sewajarnya kita para umat menyebut
Kanjeng Nabi SAW. dengan "Sayyidinaa” atau kata lain yang maksudnya sama,
misalnya "Kanjeng”, "Gusti", "Bendoro" dan sebagainya.
Terhadap pahlawan bangsa kita, sering kita menggunakan sebutan "Pangeran
Diponegoro", "Kanjeng Sultan" dan sebagainya.
Lebih-lebih terhadap Rosululloh SAW. bukankah
Kanjeng Nabi Muhammad SAW. adalah "Sayyidul Anbiyaa Wal Mursaliin”,
Pemimpinnya para Nabi dan para Utusan Alloh, bahkan "Sayyidul Kholqi
Aj-ma'iin'", Sayyid atau Pemimpinnya seluruh makhluq !.
Jadi penggunaan kalimah 'sayyidinaa' terhadap
Kanjeng Nabi SAW, baik didalam bacaan sholawat ataupun diluar bacaan sholawat,
merupakan cetusan rasa ta'dhim memulyakan dan rasa mahabbah-cinta yang mulus.
Dan sesuai dengan hadits Rosululloh SAW.
"Aku adalah Sayyid (pimpinan)-nya anak
cucu Adam dan tidak membanggakan diri "
(Hadits riwayat Imam Ahmad dan Tirmidzi dan lbnu Majah dari Abu Sa'id
al-Khudri).
Ini mengajarkan kepada kita supaya lebih
memurnikan tauhid kita kepada Alloh SWT. Pada kesempatan lain Rosululloh SAW.
bersabda yang artinya :
Rosuululloh SAW bersabda : "Janganlah kamu
memanggil orang munafiq dengan "sayyid". Kalau memang benar ia orang
pimpinan. Maka berarti kamu telah mernurkakan Tuhan kamu" (Hadits riwayat
Abu Dawud, dengan sanad yang Sohih).
Alloh SWT. melarang tidak boleh mengundang
Kanjeng Nabi SAW, hanya dengan menyebut "Yaa Muhammad" atau "Yaa
Abal Qoshim" dan panggilan lain yang tidak mengandung nilai ta'dhim.
Firman Alloh SWT :
"Janganlah kamu jadikan panggilan Rosul
diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)''
(Qs. An-Nuur : 63).
Di dalam ayat lain disebutkan larangan Alloh
SWT
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu meninggikan suara kamu melebihi suara Nabi (SAW), dan janganlah kamu
berkata kapada-Nya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian
kamu terhadap sebagian yang lain, salah-salah menjadi hapus amal-amal kamu
sekalian dan kamu sekalian tidak menyadari" (49 - Al Hujurot : 2).
Kedua ayat tersebut bertitik berat pada bidang
adab terhadap Rosululloh SAW. memanggil nama Kanjeng Nabi SAW. dengan “menjangkar”
istilah orang Jawa, artinya memanggil tanpa disertai rasa hormat, dan berbicara
keras terhadap Kanjeng Nabi SAW adalah sangat tidak sopan dan merupakan suu-ul
adab yang bisa mengakibatkan terhapusnya amal-amal kebaikan.
Kita para umat wajib menghormat dan memulyakan
Kanjeng Nabi SAW. Syekh Abul Abbas at-Tijani berkata sebagaimana disebutkan di
dalam kitab Sa'aadatud Daaroini halaman 11, bahwa "siyaadah" (sebutan
Yaa Sayyidii) adalah termasuk ibadah. Sebab maksud pokok dari pada membaca
sholawat adalah menghormat mengagungkan Kanjeng Nabi SAW. Jadi apabila
meninggalkan "siyaadah" didalam membaca sholawat, berarti tidak
menghormat tidak memulyakan Kanjeng Nabi SAW. ini perlu kita perhatikan !.
SHOLAWAT GHOIRU MAKTSUUROH
Sholawat Ghoiru Maktsuuroh adalah sholawat yang
disusun oleh selain Kanjeng Nabi SAW. Yaitu oleh para Sahabat, para Tabi'in,
para Sholihiin, para Auliya , para Ulama' dan oleh umumnya orang Islam. Maka
tidak aneh bahwa umumnya Sholawat Ghoiru Maktsuuroh itu kalimahnya ada yang panjangpanjang,
susunan bahasanya disertai kata-kata yang indah-indah, mengekspresikan
penghormatan, pujian dan sanjungan yang romantik sebagai cetusan dari getaran
jiwa mahabbah dan syauq atau rindu yang mendalam. Bahkan tidak sedikit yang
disusun dengan menggunakan kesusastraan yang tinggi, menggunakan
kalimat-kalimat yang baliigh dalam bentuk nadhom atau sya'ir, sajak dan puisi.
Dan di samping sholawat banyak disertakan do'ado'a munajat kepada Alloh
Subhanahu wa Ta ala dan kalimat-kalimat tasyaffu'an memohon syafa'at kepada
Rosululloh SAW. Hal tersebut menambah ikrom, ta'dhim dan rasa mahabbah yang
makin mendalam.
Ada banyak sekali macam Sholawat Ghoiru
Maktsuuroh dengan nama yang bermacam-macam pula. Berpuluh; beratus bahkan
beratus ribu. Alloohu A'Iamu !.
Ada yang diberi nama dengan nama Mu'allifnya
dan ada yang diberi nama menurut fadhiilah dan faedah yang terkandung
didalamnya. Contoh sholawat ghoiru maktsuuroh antara lain sholawat Munjiyaat,
sholawat Naariyah, sholawat Badawiyah, sholawat Badar, sholawat Burdah,
sholawat Masyisyiyah dan masih banyak Iagi. Sholawat Wahidiyah termasuk
sholawat Ghoiru Maktsuuroh, dan nama "Wahidiyah" diambil dari salah
satu Asma'ul Husna (Asma Alloh yang baik) yang terdapat didalamnya yaitu
"ALLOHUMMA YAA WAAHIDU...".
Mari kita menyatakan syukur kepada Alloh SWT
dengan membaca surat al-Fatihah satu kali dihaturkan sebagai hadiah, disamping
kepada Rosululloh SAW juga kepada para Mu'allif beberapa Sholawat tersebut
diatas.
AL FAATIHAH !...................
Banyak sholawat ghoiru maktsuuroh yang
mengandung ajaran yang penting-penting. Ada yang mengandung ajaran bidang
akhlaq dan adab, ada yang mengandung ajaran tauhid, ajaran haqiqot dan
ma'rifat, dan ada juga yang mengandung ajaran syari'ah. Sholawat Masyisyiyah
yang ditaklif oleh Syekh Abdus Salam bin Masyisy berisi ajaran Tauhid. Sholawat
Burdah taklifan Syekh Bushiri mengandung dorongan batin yang menggugah dan
menumbuhkan rasa mahabbah dan rindu kepada Junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad
SAW.
Dan Sholawat Wahidiyah yang mengandung ajaran
yang meliputi bidang haqiqot dan bidang syari'at, mencakup bidang akhlaq dan
adab, bidang tauhid, bidang iman, bidang Islam dan bidang ihsan, pokoknya
bidang ubudiyah dan bidang kemasyarakatan. Sholawat Wahidiyah mengandung dan
memberikan bimbingan praktis didalam merealisasi pelaksanaan "HABLUN
MINALLOOHI WA HABLUN MINANNAS", yakni membimbing pelaksanaan dan realisasi
kewajiban serta tanggung jawab terhadap Alloh wa Rosuulihi SAW, terhadap
keluarga, terhadap bangsa dan negara, terhadap sesama umat manusia, terhadap
agama, bahkan terhadap sesama makhluk pada umumnya.
Bimbingan praktis tersebut dituangkan dengan
kalimah-kalimah yang baliigh tetapi mudah difahami dan mudah diterapkan dan
dilaksanakan seperti dapat kita saksikan di dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah
yang disampaikan kepada masyarakat luas dengan cuma-cuma. Titik fokus yang
menjadi tujuan dari pada bimbingan praktis tersebut adalah bidang Wushul
Ilalloh atau bidang Ma'rifat atau sadar kepada Alloh wa Rosuulihi SAW. Begitu
baliigh susunan bahasanya, sehingga untuk mendalaminya perlu dibeberkan dengan
bahasa yang praktis dan dengan penjelasanpenjelasan yang luas untuk lebih
memudahkan di dalam pengamalan dan penerapannya.
Itulah antara lain tugas Buku Kuliah Wahidiyah
ini dan bukubuku Wahidiyah lainnya seperti
1. Risalah
Penjelasan Mengenai Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah ;
2. Pedoman
Pokok-Pokok Ajaran Wahidiyah ;
3. Tuntunan
Mujahadah dan acara-acara Wahidiyah ;
4. Tuntunan
Mujahadah Kanak-Kanak Wahidiyah ;
5. Tuntunan
Pembinaan Wanita Wahidiyah
6. Mingguan
Wahidiyah, dan
7. Brosur-brosur
Wahidiyah yang dikeluarkan oleh Yayasan Perjuangan Wahidiyah Pusat.
Baik sholawat maktsuuroh atau sholawat ghoiru
maktsuuroh adalah cukup memenuhi untuk pelaksanaan dari pada firman Alloh SWT
dalam surat al-Ahzab ayat 56 :
"Wahai orang-orang yang beriman bacalah
sholawat kepada Nabi (SAW) dan sampaikan salam hormat dengan sebaik-baiknya”.
Seperti diuraikan dimuka, bahwa macamnya
sholawat ada banyak sekali dan kita tidak mampu menghitungnya. Masingmasing
sholawat dikaruniai faedah dan manfa'at sendiri-sendiri yang satu sama lain
tidak sama. Hanya Alloh dan Rosul-NYA SAW yang mengetahui.
Ditinjau dari Mu'allifnya, sudah barang tentu
sholawat maktsuuroh adalah yang paling utama sebab ditaklif oleh Rosululloh SAW
sendiri. Akan tetapi juga tidak sedikit sholawat ghoiru maktsuuroh yang
dikaruniai faedah dan manfa'at yang sangat berguna bagi para umat. Manfa'at
lahiriyah dan manfa'at batiniyah, baik untuk kepentingan di dunia maupun
kepentingan di akhirat. Banyak sholawat ghoiru maktsuuroh yang membuahkan rasa
ta'dhim dan mahabbah serta kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi SAW. Jadi pada
dasarnya semua sholawat adalah baik, dan dikaruniai manfa'at kebaikan yang
tidak sedikit. Antara lain tergantung kepada si pembaca sholawat. Sangatlah
tercela dan dikhawatirkan suu-ul adab apabila kita memperbandingkan satu
sholawat dengan sholawat yang lain. Suu-ul adab kepada Mu'allif sholawat dan
suu-ul adab kepada Rosululloh SAW !.
Al-Mukarrom Mbah K.H. Abdul Majid Ma'roef QS.
wa RA Mu'allif Sholawat Wahidiyah di dalam salah satu fatwa amanatnya,
menerangkan, bahwa ada beberapa factor yang berpengaruh terhadap fadliillah
kebaikan sholawat. Yaitu, disamping fadlol dari Alloh SWT dan syafa'at
Rosululloh SAW, fadhiilahnya adalah sesuatu sholawat itu ada hubungannya dengan
beberapa hal berikut ini, yang antara lain :
1. Kondisi
Mu'allif sholawat, terutama kondisi
batiniyah (kedekatannya dengan Rosululloh SAW).
2. Susunan
redaksi sholawat.
3. Situasi
dan kondisi masyarakat ketika sholawat itu ditaklif.
4. Tujuan
sholawat ditaklif.
5. Situasi
dan kondisi si pembaca sholawat.
6. Adab
lahir dan batin ketika membaca sholawat.
Bagi kita yang paling penting adalah perhatikan
adab-adab ketika membaca sholawat. Antara lain yaitu :
1. Niat
ikhlas beribadah kepada Alloh SWT tanpa pamrih.
2. Ta'dhim
dan mahabbah kepada Rosululloh SAW.
3. Hatinya
hudhur kepada Alloh SWT dan istihdhor = merasa
4. seperti
dihadapan Rosululloh SAW ;
5. Tawaddhu'
merendahkan diri, merasa butuh sekali kepada pertolongan Alloh SWT, butuh
sekali syafa'at atau bantuan (moril) dari Rosululloh SAW.
Kemudian dari sekian banyak sholawat yang
berbeda-beda fadhiilah dan manfa'atnya itu, sudah barang tentu kita, boleh
memilih sholawat apa yang akan kita amalkan, sesuai dengan kebutuhan dan hajat
kita tanpa mengurangi hormat dan perhatian kita terhadap sholawat yang lainnya.
Sesuai dengan situasi dan tuntutan zaman pada
masa akhir ini, dimana berbagai macam pengaruh datang membuat kegoncangan di
dalam hati kita, sehingga hidup kita menjadi tidak tenang dan tidak tentram,
maka sudah seharusnya kita mengamalkan sholawat yang membuahkan atau yang
membekaskan ketenangan batin dan ketentraman jiwa, pokoknya sholawat yang
mendatangkan kesejahteraan rohani. Sebab dengan kesejahteraan rohani akan mudah
dapat dibangun kesejahteraan jasmani yang kokoh dan stabil.
Kesejahteraan rohani tersebut tidak lain adalah
berupa peningkatan iman dan taqwa, peningkatan ingat dan sadar kepada Alloh wa
Rosuulihi SAW. Sholawat yang memberi faedah seperti itulah yang seharusnya kita
amalkan disamping amalan-amalan atau do'a-do'a lain.
Alhamdulillah, Sholawat Wahidiyah dikaruniai
faedah yang cocok dengan tuntutan kebutuhan seperti tersebut diatas. Pengamalan
Sholawat Wahidiyah alhamdulillah membuahkan kejernihan hati, ketenangan batin
dan ketentraman jiwa dan makin bertambah banyak ingat kepada Alloh wa Rosuulihi
SAW, suatu kondisi batiniyah yang menjamin keselamatan, kesejahteraan dan
kebahagiaan hidup lahir batin di dunia dan akhirat. Dengan kondisi batiniyah
seperti itu maka akan lahir akhlaq-akhlaq dan perbuatanIpcrbuatan yang baik, di
dalam menjalankan ibadah pengabdian diri kepada Alloh SWT Tuhan Yang Maha
Kuasa, dan di dalam hubungan dalam pergaulan hidup di masyarakat. Maka oleh
karena itu pengamalan Sholawat Wahidiyah perlu kita usahakan, perlu kita
perhatikan dengan tidak mengesampingkan lebih-lebih meremehkan atau mengurangi
perhatian terhadap amalan-amalan selain Sholawat Wahidiyah.
Ditinjau dari segi redaksi atau susunan tata
bahasanya, sholawat ghoiru maktsuuroh ada yang berbentuk permohonan kepada
Alloh SWT. seperti umpamanya dengan kalimat "ALLOHUMMA Dan ada juga secara langsung menyampaikan
sholawat itu kepada Rosululloh SAW seperti : "AS SHOLATU WASSALAAMU
'ALAIKA WA'ALA AALIKA YAA SAYYIDI YAA ROSULLALLOH".
Di dalam Sholawat Wahidiyah kita jumpai ada
bentuk sholawat dengan "Aflohumma sholli "
dan ada yang bentuk menyampaikan langsung kepada Rosululloh SAW., yaitu
sholawat yang ketiga : "YAA SYAAFI'AL KHOLQIS – SHOLAATU WASSALAM '' dan sholawat yang keempat : "YAA
SYAAFI'AL KHOLQI HABIIBALLOOHI
Sholawat yang ketiga dalam redaksi sholawat
wahidiyah "Yaa Syaafi'al Kholqis Sholaatu Was Salaam dst', disebut "SHOLAWAT TSALJUL
QULUUB" yang berarti "saljunya hati". Nama lengkapnya agak
panjang yaitu (Sholawat Saljul Ghuyuh untuk mendinginkan hati yang panas)
Dan alhamduliliah memang nyata sholawat
"Yaa Syaafi'ai Kholqis Sholaatu Was Salaam dst tersebut memberi rangsangan di dalam hati menjadi dingin tidak
mudah meluap panas tetapi juga tidak menjadi beku.
Baik sholawat yang menggunakan "Allohumma
sholli" maupun yang langsung disampaikan kepada Rosululloh SAW,
masing-masing ada khasiyatnya sendiri-sendiri. Beliau Mu'allif Sholawat
Wahidiyah menerangkan bahwa sholawat yang tidak memakai lafal "ALLOH
diantara fadhilahnya adalah memberi bekas rasa dingin, tenang dan tentram di
dalam hati. Sedangkan sholawat yang memakai lafal "ALLOH merangsang rasa
panas di dalam hati, artinya hati menjadi bersemangat dan bergairah, bergairah
untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik diridhoi Alloh Wa Rosulihi SAW.
Kemudian mana yang perlu kita perbanyak
pengamalannya, apakah sholawat yang memakai lafal "ALLOH atau yang tidak
memakai lafal "ALLOH , itu tidak menentu, tergantung "Waaridun
Ilahiyyun (= getaran hati dari Alloh) yang diberikan ke dalam hati seseorang.
Suatu ketika mungkin sholawat yang menggunakan lafal "ALLOHUMMA" atau
lafal "ALLOH seperti misalnya "SHOLLALLOOHU 'ALA MUHAMMAD" yang
meninggalkan kesan yang baik di dalam hati. Akan tetapi mungkin pada suatu
tempo justru sholawat yang redaksinya langsung kepada Rosululloh SAW dan tidak
mengandung lafal "ALLOH yang memberikan kesan atau rangsangan yang baik di
dalam hati.
Sholawat Wahidiyah terdiri dari rangkaian dua
bentuk redaksi sholawat seperti diatas. Ada yang bentuk "ALLOOHUMMA dan ada yang langsung disampaikan kepada
Rosululloh SAW. Tanpa disertai lafal ALLOH. Maka logis apabila faedah yang
diberikan Alloh SWT kepada Sholawat Wahidiyah benar-benar cocok dengan apa yang
dibutuhkan oleh umat dan masyarakat dewasa ini. Yakni hati yang dingin, tenang
dan tentram tetapi bersemangat dan bergairah.
Selain itu didalam Sholawat Wahidiyah, di
samping redaksi sholawat sebagai intinya, disertakan pula do'a-do'a permohonan
kepada Alloh SWT. Hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Yaitu
misalnya pada sholawat kedua "ALLOOHUMMA KAMAA ANTA AHLUH............”.
Ditambah lagi dengan permohonan kebaikan bagi pribadi, keluarga, bangsa dan
negara, bahkan bagi ummat masyarakat manusia seluruh dunia baik, yang masih
hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Nenek moyang kita. leluhur kita dan
saudara-saudara kita yang sudah beraoa di alam kubur tidak ketinggaian menjadi
sasaran penting yang dimohonkan di dalam Sholawat Wahidiyah. Kesejahteraan dan
barokah bagi bangsa dan negara, bahkan bagi seluruh makhluq ciptaan Alloh SWT
termasuk objek yang harus dimohonkan di dalam mujahadah Sholawat Wahidiyah.
Ditambah lagi dengan permohonan barokah bagi mujahadah yang sedang kita
laksanakan, kemudian diakhiri dengan getaran jiwa yang kuat mengetuk hati
jamii'al alamin (umat seluruh dunia) termasuk diri kita sendiri terutama, yaitu
ajakan
“FAFIRRUU ILALLOH” = larilah kembali kepada
Alloh (Wa Rosuulihi SAW). Arti "barokah" yang dimaksud adaiah
bertambahnya kebaikan.
Yang penting lagi, di dalam Wahidiyah kita
dibimbing oleh Beliau Mbah Kiyai Mu'allif Sholawat Wahidiyah QS wa RA, antara
lain yaitu di dalam setiap kita berdo'a, kita harus husnulyaqin = berbaik
keyakinan bahwa permohonan kita dikabulkan oleh Alloh SWT. yaitu menerapkan
sabda Hadits :
Artinya :
"Apabila kamu sekalian berdo'a maka
yakinlah (do'a-mu) diijabahi oleh Alloh SWT” (Hadits riwayat Tirmidzi dari Abu
Huroiroh).
Akan tetapi kita tidak boleh terpancang hanya
memandang terkabulnya do'a saja !. Didalam berdo'a kita harus menitikberatkan
do'a kita itu sebagai pelaksanaan ibadah kepada Alloh. Kita memang diperintah
untuk berdo'a. Titik.
Firman Alloh SWT :
Artinya kurang lebih :
"Dan Tuhanmu Berfirman : "Berdo’alah
(Memohonlah) kamu sekalian kepada-Ku, niscaya akan AKU ijabahi bagimu" (40
– Al Mukmin : 60).
Jadi kita berdo'a untuk melaksanakan
perintah-NYA yaitu "UD'UUNI". Berdo'a dengan niat ibadah kepada Alloh
SWT dengan ikhlas tanpa pamrih "LILLAH", istilah di dalam Wahidiyah.
Dan disamping LILLAH harus pula ada niat "LIRROSUL" mengikuti tuntunan
Rosul SAW. dan dijiwai sadar kepada Alloh wa Rosuulihi SAW !. Lihat Ajaran
Wahidiyah di belakang.